F G
Every time I think of you
Em Am
I feel shot right through with a bolt of blue
F G
It’s no problem of mine but it’s a problem I find
Em Am
Living a life that I can’t leave behind
F G
There’s no sense in telling me
Em Am
The wisdom of a fool won’t set you free
F
But that’s the way that it goes
G
And it’s what nobody knows
Em Am
And every day my confusion grows
[Chorus]
F G
Every time I see you falling
Em Am
I get down on my knees and pray
F G
I’m waiting for that final moment
Em Am
You’ll say the words that I can’t say
[Verse]
I feel fine and I feel good
I’m feeling like I never should
Whenever I get this way, I just don’t know what to say
Why can’t we be ourselves like we were yesterday
I’m not sure what this could mean
I don’t think you’re what you seem
I do admit to myself
That if I hurt someone else
Then I’ll never see just what we’re meant to be
Pagi ini
keluargaku makan sahur dengan menu soto, ada sambalnya, yang membuat aku jadi
tambah semangat. Yeah, aku memang peminat sambel banget, jadi waktu itu aku
habiskan sambalnya, sampai Bibiku nggak kebagian. Hehe
Makanannya
hangat. Enak siih. Tapi sebenarnya aku lebih suka makanan dingin biar cepet
habis makanannya. Ini gak habis-habis padahal semua keluargaku sudah menungguku
menghabiskannya di meja makan, tentunya sambil mengobrol renyah.
Beberapa saat,
tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Setelah pintu dibuka, ternyata sepupuku
Sihab ingin membeli mie-ibuku punyaa toko kelontong-. Setengah jam lagi imsak,
kok dia baru beli mie? Jangan-jangan dia belum sahur? Akhirnya dia dipaksa
sahur di rumah kami, karena tadi masih ada sedikit nasi. Daripada makan mie
yang banyak minyaknya?
Dia malu-malu,
menunduk sekali saat makan. Sehingga tubuhnya yang jakung jadi melengkung.
Jadilah aku makan dengannya. Setelah dia makan, mengucapkan terima kasih, dan
keluar begitu saja.
Ketika semua
sudah selesai, aku bersama keluargaku masih duduk-duduk santai. Sekedr info,
keluargaku di sini hanya ibu, paman dan bibi yang baru saja menikah dengan
paman, jadi belum kenal semua anggota keluarga besar ibu. Tiba-tiba pembicaraan
mengarah ke Sihab.
“Aku tadi lihat
Sihab di depan rumahnya Wafa-pamannya Sihab-.”, kata bibi.
Jadi, Sihab itu
belum makan sahur karena rumahnya dikunci sama paman Wafa-panggilanku pada
pamannya Sihab-. Sihab itu tinggal di pondok yang deket banget sama rumahnya,
kemudian hampir setiap sahur dan buka dia pulang lalu kembali lagi ke pondok.
Bibi yang belum tahu bertanya, kenapa nggak tinggal di rumah pamannya aja? Dan
jawabannya adalah karena mereka tidak cocok.
Sihab adalah
anak yang terhitung yatim-piatuh sejak dia masih sangat kecil. Aku bilang
terhitung karena, kedua ayah-ibunya masih hidup, tapi tak berfungsi sama
sekali. Sehingga Sihab diasuh kakek nenknya yang di dalam rumah itu juga ada
paman Wafa. Paman Wafa sangat kejam terhadap Sihab. Dia pernah memukuli Sihab.
Mmencemooh sering. Terlebih sekarang Paman Wafa punya istrri kecentilan
yang...eeeergggh.. Nggak punya perasaan sama sekali. Pada saat dia masih SMP,
kakek-neneknya wafat. Dan jadilah dia tinggal dengan pman Wafa untuk beberapa
hari, tapi dia tidak kuat.
Aku tahuSihab
anak baik. Baik sekali. Meskipun dengan aku cuek bangeeet, bahkan tak pernah
menyapa, bahkan saat aku menyapanya duluan, dia tak merespon. Wah! Keterlaluan!
Tapi aku paham, dia hidup tanpa kasih sayang orang tua. Aku berdo’a dalam hati,
semoga suatu saat dia mendapat istri cantik dan sangat menyayanginya. Amiiiin..
Pagi ini
keluargaku makan sahur dengan menu soto, ada sambalnya, yang membuat aku jadi
tambah semangat. Yeah, aku memang peminat sambel banget, jadi waktu itu aku
habiskan sambalnya, sampai Bibiku nggak kebagian. Hehe
Makanannya
hangat. Enak siih. Tapi sebenarnya aku lebih suka makanan dingin biar cepet
habis makanannya. Ini gak habis-habis padahal semua keluargaku sudah menungguku
menghabiskannya di meja makan, tentunya sambil mengobrol renyah.
Beberapa saat,
tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Setelah pintu dibuka, ternyata sepupuku
Sihab ingin membeli mie-ibuku punyaa toko kelontong-. Setengah jam lagi imsak,
kok dia baru beli mie? Jangan-jangan dia belum sahur? Akhirnya dia dipaksa
sahur di rumah kami, karena tadi masih ada sedikit nasi. Daripada makan mie
yang banyak minyaknya?
Dia malu-malu,
menunduk sekali saat makan. Sehingga tubuhnya yang jakung jadi melengkung.
Jadilah aku makan dengannya. Setelah dia makan, mengucapkan terima kasih, dan
keluar begitu saja.
Ketika semua
sudah selesai, aku bersama keluargaku masih duduk-duduk santai. Sekedr info,
keluargaku di sini hanya ibu, paman dan bibi yang baru saja menikah dengan
paman, jadi belum kenal semua anggota keluarga besar ibu. Tiba-tiba pembicaraan
mengarah ke Sihab.
“Aku tadi lihat
Sihab di depan rumahnya Wafa-pamannya Sihab-.”, kata bibi.
Jadi, Sihab itu
belum makan sahur karena rumahnya dikunci sama paman Wafa-panggilanku pada
pamannya Sihab-. Sihab itu tinggal di pondok yang deket banget sama rumahnya,
kemudian hampir setiap sahur dan buka dia pulang lalu kembali lagi ke pondok.
Bibi yang belum tahu bertanya, kenapa nggak tinggal di rumah pamannya aja? Dan
jawabannya adalah karena mereka tidak cocok.
Sihab adalah
anak yang terhitung yatim-piatuh sejak dia masih sangat kecil. Aku bilang
terhitung karena, kedua ayah-ibunya masih hidup, tapi tak berfungsi sama
sekali. Sehingga Sihab diasuh kakek nenknya yang di dalam rumah itu juga ada
paman Wafa. Paman Wafa sangat kejam terhadap Sihab. Dia pernah memukuli Sihab.
Mmencemooh sering. Terlebih sekarang Paman Wafa punya istrri kecentilan
yang...eeeergggh.. Nggak punya perasaan sama sekali. Pada saat dia masih SMP,
kakek-neneknya wafat. Dan jadilah dia tinggal dengan pman Wafa untuk beberapa
hari, tapi dia tidak kuat.
Aku tahuSihab
anak baik. Baik sekali. Meskipun dengan aku cuek bangeeet, bahkan tak pernah
menyapa, bahkan saat aku menyapanya duluan, dia tak merespon. Wah! Keterlaluan!
Tapi aku paham, dia hidup tanpa kasih sayang orang tua. Aku berdo’a dalam hati,
semoga suatu saat dia mendapat istri cantik dan sangat menyayanginya. Amiiiin..
Hari ini
pengumuman SBMPTN. Alhamdulillah, aku keterima di pilihan pertama. Teman
seperjuanganku, sebut saja Tyas dan Maudi juga lolos di pilihan pertama. Sayang
sahabatku SMP, sebut saja Salma, dan sahabatku di pondok, sebut saja Ismi belum
beruntung. Aku tercekat mendengar kabar itu. Aku sedih.
Ada lagi yang
membuat hatiku agak loyo, dia, sebut saja Esok (julukan dari Maudi, berasal
dari novel Tere Liye-Hujan, soalnya dia pinter banget). Keterima di universitas
yang beda sama aku. Hhhh! Harus bagaimana coba? Universitas Esok adalah pilihan
Universitasku yang kedua. Saat ini, aku berharap dia jodohku.
Kami selalu
berkomunikasi lewat fb. Kali ini, Esok nge-chat aku dulu.
Esok :
Gimana SBM-nya? Kamu isi berapa?
Aku : Mtk hanya 3,fis hanya 3,kimia lumayan,
ga tau yg lain. Kmu sndiri?
Esok : Isi 87
Aku : Bagus donk! Aku aja nggak tahu
punyaku brapa.
Sore
hari.....
Esok : Gimana?
Aku : Belum. Kamu sndiri?
Esok : Siskal Univ keduamu. Cepet
liat!!
Aku : Alhamdulillah. Sebentar.
Proses,
Esok : Perlu kubukakan?
Aku : Proses
Esok : Msak dari tadi proses?
Aku : Esooooook... alhamdulillah.. Univ
pertama
Esok : Alhamdulillah Yog. Kamu tga
ninggal aku ke itb. -_-
Aku : Haha... Gpp, Univ kedua juga
bagus... besook s2 bareng.. haha
Esok : Aq masih ga sreg. Masih pngen
d teknik kimia -_- Gimana ini?
Aku : gapapa. Udah bagus. Sama kaya
kakakmu kan?
Esok : Sebenrnya jurusannya bagus.
Tp yang buat ga sreg itu gara” sama kaya kakakku!
Aku : Ooooh. Kukira kenapa..itu
jurusan kereeeeen.. Eh.. kuliah itu textbooknya inggris yaa?
Esok : Iya Yog
Aku : haduuuuh...
Esok : Gapapa. Yang penting ITB.
Aku : Kamu minat ke s2. Hehe, Cuma kepikiran.
Esok : Gak Yog.
Aku : Minat donk niiiip! Kamu itu bocah
pinter,,
Esok : Pengen kerja dulu Yog. Trus
nikah. :-D. S2 dipikir sambil jalan.
Aku : Nikah dulu,, trus s2..
Esok :Insyaallah. B.inggrisnya
dimantapkan dulu. Baru aku punya pikiran s2
Aku : iya.. terutama toefl..
Esok : Dimantapkan dulu. Moga" betah
disana. Bandung jauh dari rumah
Aku : Y. Moga” aja.. kmu y moga"
betah d sby.. Meskipun dekat.
Baper
kawaan...
Aku beberapa kali mengisi waktu
luangku dengan bermain gitar. Malam sebelumnya, aku habis menonton sinetron
'Mermaid In Love', aku langsung saja menyukai salah satu soundtracknya,
Viera-Rasa ini. Saat aku memainkan gitar sambil bernyanyi.........
Ku tak percaya kau ada di sini
(Kupejamkan mata. Benakku kembali ke masa lalu.
Tepatnya dalam gedung bimbelku. Dia selalu ada saat aku ingin bertanya. Aku
merasa sangat bodoh di hadapannya. Aku masih ingat lagi, itu tanggal ‘23’, dia
menunjukkan layar HP-nya. Dia berkata, “Tanggal berapa ini?”, yeah, dia hanya
mengingatkanku bagaimana aku sepertinya tidak siap sekali menghadapi UN
sebentar lagi)
Menemaniku di saat dia pergi
Menemaniku di saat dia pergi
(Nggak tahu)
Sungguh bahagia kau ada di sini
Sungguh bahagia kau ada di sini
(Saat itu, aku berangkat sendiri, temanku yang
biasa berangkat bersamaku ada ujian pondok. Saat hampir sampai, hujan turun
tidak terlalu deras, justru membawa kesejukan. Aku melihat jam di HP, aku
berangkat terlalu awal. Ya sudahlah. Aku menunggu di tempat yang menurutku
cukup luas. Setelah hujan agak redah, aku melanjutkan perjalanan ke tempat
bimbelku. Belum ada yang datang. Aku duduk sendiri. Satu. Dua. Tiga. Dia
datang. Kita berdua waktu itu, bimbel matematika)
Menghapus semua sakit yang ku rasa
Menghapus semua sakit yang ku rasa
(Aku hampir lupa kalau waktu itu aku akan UN)
Mungkinkah kau merasakan
Semua yang ku pasrahkan
Mungkinkah kau merasakan
Semua yang ku pasrahkan
(Belum sekarang. Aku selalu berdo’a, suatu saat)
Kenanglah kasih..
Kenanglah kasih..
Ku suka dirinya, mungkin aku sayang
Namun apakah mungkin, kau menjadi milikku
(Semoga)
Kau pernah menjadi, menjadi miliknya
Kau pernah menjadi, menjadi miliknya
(Bukan pernah, tapi sekarang memang jadi milik
yang lain :’( )
Namun salahlah aku, bila ku pernah merasa ini
Namun salahlah aku, bila ku pernah merasa ini
(Semoga tidak salah)
Semoga dia tidak membaca ini.