Curhat-Semoga Kamu Dapat Jodoh Yang Cantik dan Selalu Sayang Sama Kamu
Pagi ini
keluargaku makan sahur dengan menu soto, ada sambalnya, yang membuat aku jadi
tambah semangat. Yeah, aku memang peminat sambel banget, jadi waktu itu aku
habiskan sambalnya, sampai Bibiku nggak kebagian. Hehe
Makanannya
hangat. Enak siih. Tapi sebenarnya aku lebih suka makanan dingin biar cepet
habis makanannya. Ini gak habis-habis padahal semua keluargaku sudah menungguku
menghabiskannya di meja makan, tentunya sambil mengobrol renyah.
Beberapa saat,
tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Setelah pintu dibuka, ternyata sepupuku
Sihab ingin membeli mie-ibuku punyaa toko kelontong-. Setengah jam lagi imsak,
kok dia baru beli mie? Jangan-jangan dia belum sahur? Akhirnya dia dipaksa
sahur di rumah kami, karena tadi masih ada sedikit nasi. Daripada makan mie
yang banyak minyaknya?
Dia malu-malu,
menunduk sekali saat makan. Sehingga tubuhnya yang jakung jadi melengkung.
Jadilah aku makan dengannya. Setelah dia makan, mengucapkan terima kasih, dan
keluar begitu saja.
Ketika semua
sudah selesai, aku bersama keluargaku masih duduk-duduk santai. Sekedr info,
keluargaku di sini hanya ibu, paman dan bibi yang baru saja menikah dengan
paman, jadi belum kenal semua anggota keluarga besar ibu. Tiba-tiba pembicaraan
mengarah ke Sihab.
“Aku tadi lihat
Sihab di depan rumahnya Wafa-pamannya Sihab-.”, kata bibi.
Jadi, Sihab itu
belum makan sahur karena rumahnya dikunci sama paman Wafa-panggilanku pada
pamannya Sihab-. Sihab itu tinggal di pondok yang deket banget sama rumahnya,
kemudian hampir setiap sahur dan buka dia pulang lalu kembali lagi ke pondok.
Bibi yang belum tahu bertanya, kenapa nggak tinggal di rumah pamannya aja? Dan
jawabannya adalah karena mereka tidak cocok.
Sihab adalah
anak yang terhitung yatim-piatuh sejak dia masih sangat kecil. Aku bilang
terhitung karena, kedua ayah-ibunya masih hidup, tapi tak berfungsi sama
sekali. Sehingga Sihab diasuh kakek nenknya yang di dalam rumah itu juga ada
paman Wafa. Paman Wafa sangat kejam terhadap Sihab. Dia pernah memukuli Sihab.
Mmencemooh sering. Terlebih sekarang Paman Wafa punya istrri kecentilan
yang...eeeergggh.. Nggak punya perasaan sama sekali. Pada saat dia masih SMP,
kakek-neneknya wafat. Dan jadilah dia tinggal dengan pman Wafa untuk beberapa
hari, tapi dia tidak kuat.
Aku tahuSihab
anak baik. Baik sekali. Meskipun dengan aku cuek bangeeet, bahkan tak pernah
menyapa, bahkan saat aku menyapanya duluan, dia tak merespon. Wah! Keterlaluan!
Tapi aku paham, dia hidup tanpa kasih sayang orang tua. Aku berdo’a dalam hati,
semoga suatu saat dia mendapat istri cantik dan sangat menyayanginya. Amiiiin..
Pagi ini
keluargaku makan sahur dengan menu soto, ada sambalnya, yang membuat aku jadi
tambah semangat. Yeah, aku memang peminat sambel banget, jadi waktu itu aku
habiskan sambalnya, sampai Bibiku nggak kebagian. Hehe
Makanannya
hangat. Enak siih. Tapi sebenarnya aku lebih suka makanan dingin biar cepet
habis makanannya. Ini gak habis-habis padahal semua keluargaku sudah menungguku
menghabiskannya di meja makan, tentunya sambil mengobrol renyah.
Beberapa saat,
tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Setelah pintu dibuka, ternyata sepupuku
Sihab ingin membeli mie-ibuku punyaa toko kelontong-. Setengah jam lagi imsak,
kok dia baru beli mie? Jangan-jangan dia belum sahur? Akhirnya dia dipaksa
sahur di rumah kami, karena tadi masih ada sedikit nasi. Daripada makan mie
yang banyak minyaknya?
Dia malu-malu,
menunduk sekali saat makan. Sehingga tubuhnya yang jakung jadi melengkung.
Jadilah aku makan dengannya. Setelah dia makan, mengucapkan terima kasih, dan
keluar begitu saja.
Ketika semua
sudah selesai, aku bersama keluargaku masih duduk-duduk santai. Sekedr info,
keluargaku di sini hanya ibu, paman dan bibi yang baru saja menikah dengan
paman, jadi belum kenal semua anggota keluarga besar ibu. Tiba-tiba pembicaraan
mengarah ke Sihab.
“Aku tadi lihat
Sihab di depan rumahnya Wafa-pamannya Sihab-.”, kata bibi.
Jadi, Sihab itu
belum makan sahur karena rumahnya dikunci sama paman Wafa-panggilanku pada
pamannya Sihab-. Sihab itu tinggal di pondok yang deket banget sama rumahnya,
kemudian hampir setiap sahur dan buka dia pulang lalu kembali lagi ke pondok.
Bibi yang belum tahu bertanya, kenapa nggak tinggal di rumah pamannya aja? Dan
jawabannya adalah karena mereka tidak cocok.
Sihab adalah
anak yang terhitung yatim-piatuh sejak dia masih sangat kecil. Aku bilang
terhitung karena, kedua ayah-ibunya masih hidup, tapi tak berfungsi sama
sekali. Sehingga Sihab diasuh kakek nenknya yang di dalam rumah itu juga ada
paman Wafa. Paman Wafa sangat kejam terhadap Sihab. Dia pernah memukuli Sihab.
Mmencemooh sering. Terlebih sekarang Paman Wafa punya istrri kecentilan
yang...eeeergggh.. Nggak punya perasaan sama sekali. Pada saat dia masih SMP,
kakek-neneknya wafat. Dan jadilah dia tinggal dengan pman Wafa untuk beberapa
hari, tapi dia tidak kuat.
Aku tahuSihab
anak baik. Baik sekali. Meskipun dengan aku cuek bangeeet, bahkan tak pernah
menyapa, bahkan saat aku menyapanya duluan, dia tak merespon. Wah! Keterlaluan!
Tapi aku paham, dia hidup tanpa kasih sayang orang tua. Aku berdo’a dalam hati,
semoga suatu saat dia mendapat istri cantik dan sangat menyayanginya. Amiiiin..
0 komentar